082210068615

082210068615

: webmaster@osingdeles.com 082210068615 Jl. K.H. Agus Salim No.12A, Taman Baru, Banyuwangi
Osing Deles
SHARE :

Tumpeng Sewu, Tradisi Masyarakat Kemiren

5
09/2016
Kategori : blog
Komentar : 0 komentar
Author : osingdeles


Tumpeng Sewu, Tradisi Masyarakat Kemiren

Tumpeng Sewu

Tumpeng Sewu

Banyuwangi terus mengembangkan destinasi wisatanya. Bukan hanya kekayaan wisata alamnya, namun budaya dan tradisi masyarakatnya terus dikembangkan. Salah satunya ritual adat Tumpeng Sewu yang digelar oleh masyarakat Desa Kemiren. Minggu malam (4/9), ribuan orang memenuhi jalanan Desa Kemiren.

Di bawah temaram api obor, semua orang duduk dengan tertib bersila di atas tikar maupun karpet yang tergelar di depan rumah. Di hadapannya tersedia tumpeng yang ditutup daun pisang. Dilengkapi lauk khas warga Kemiren, pecel pithik dan sayur lalapan sebagai pelengkapnya. Usai kumandang do’a yang yang dibacakan sesepuh dari masjid di desa setempat, masyarakat mulai makan tumpeng bersama. Suasana guyub dan kebersamaan pun terasa. Meski tak jarang di sekelompok orang yang duduk bersama itu baru saja saling mengenal.

Seperti yang diungkapkan Nuke Ladyna, asal Surabaya, yang merasakan kehangatan warga Kemiren. “Saya tahu Tumpeng Sewu dari Twitter. Dua minggu lalu saya sudah berencana main ke sini. Saat tiba di sini, kami langsung diajak makan bersama warga. Mereka ramah-ramah,” kata Nuke. Asisten Dosen Universitas Airlangga itu juga menyatakan terkesan dengan pecel pitik. Dia pertama kalinya melihat pecel petek yang menjadi sajian utama di Tumpeng Sewu. “Saya baru pertama kali ini melihat ayam bakar dicampur bumbu kelapa,” kata Nuke.

Hal yang sama dilontarkan oleh wisatawan asal Surabaya lainya, Anggraenny Prajayanti. Gadis yang akrab disapa Aang itu, juga sempat melihat proses pembuatan pecel petek. Aang mendatangi rumah penduduk Minggu siang, untuk melihat bagaimana pembuatan pecel petek. “Ternyata cara masaknya unik. Saya kira dibakar langsung, ternyata didekatkan pada api sehingga lemak dan darah dari ayam itu hilang. Selain itu, nasinya ternyata ditanak dengan cara dikukus,” kata Aang.

Tumpeng Sewu merupakan tradisi adat warga Using, suku asli masyarakat Banyuwangi, yang digelar seminggu sebelum Idul Adha. Sebelum makan tumpeng sewu warga akan di ajak berdoa agar desanya dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual tumpeng sewu diyakini merupakan selamatan tolak bala. Setiap rumah warga Using di Kemiren mengeluarkan minimal satu tumpeng yang diletakkan di depan rumahnya. Pagi harinya sebelum dimulai selamatan masal, warga telah melakoni ritual mepe kasur.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Yanuar Bramuda mengatakan pihaknya terus berupaya mengangkat tradisi lokal Banyuwangi, seperti tumpeng sewu. Menurut dia, tradisi menjadi salah satu daya tarik wisata yang banyak diminati wisatawan. Saat ini banyak travel yang membuat paket-paket wisata yang memasukkan atraksi budaya sebagai salah satu destinasinya. “Kekhasan semacam ini banyak diminati wisatawan. Kami akan terus mendorong bentuk-bentuk wisata ini karena wisata tradisi ini juga bisa memperpanjang lama tinggal wisatawan di Banyuwangi. Mereka yang setelah dari Gunung Ijen, bisa menikmati dulu tradisi Kemiren,” kata Bramuda.

Selain itu, lanjut dia, nilai-nilai yang dimiliki warga Banyuwangi yang egaliter dan terbuka juga menopang Banyuwangi dalam membidik segmentasi pariwisata syariah. Pariwisata Banyuwangi saat ini masih didominasi wisatawan asing dari Eropa seperti Perancis dan Belanda. “Tradisi semacam tumpeng sewu ini akan memperluas segmentasi kami ke pasar Timur Tengah dan Asia. Karena karakter wisatawan dinkawasan tersebut menyenangi tradisi swmacam ini. Kami juga sudah ada pembicaraan dengan agen travel dari Malaysia. Mereka tertarik untuk membuat paket wisata yang direct langsung dari Malaysia ke Banyuwangi. Semuanya sedang kita siapkan,” ujar Bramuda.

Sampai saat ini wisatawan Banyuwangi sendiri terus meningkat. Pada 2015 wisatawan mancanegara mencapai 40 ribu, dan wisatwan domestik sejumlah 1,8 juta orang. “Target kami tahun 2016 ini wisman tembus 50 ribu, dan domestik 2,5 juta orang. Saat bulan ini sudah 2,1 jta wisatawan yang melancong ke Banyuwangi,” pungkas Bramuda. (Humas)

source: http://banyuwangikab.go.id/berita-daerah/tumpeng-sewu-tradisi-using-yang-diminati-wisatawan.html

Berita Lainnya



Tinggalkan Komentar